Pemain Asing di Liga Indonesia

Salam Sepakbola!

Mendengar gembar-gembor persiapan tim dalam menjajaki Liga Super 2008 di media mengkatalisir jiwa saya untuk berkomentar mengenai persepakbolaan nasional, terutama mengenai kompetisi akbar yang digelar setiap tahunnya, Liga Indonesia. Saya belum mengerti secara pasti mengenai status Liga Super yang akan digelar tahun ini, apakah itu hanya merupakan nama baru dengan peserta yang telah diseleksi pada liga musim kemarin, atau benar-benar sebuah kompetisi baru dengan sistem yang baru pula. Namun terlepas dari itu, tidak bisa kita pungkiri kalau nantinya kehadiran pemain asing akan mewarnai perhelatan sepkabola paling akbar senusantara ini, layaknya tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar pecinta kompetisi lokal kita ini mungkin sangat menikmati kehadiran mereka, termasuk juga saya. Sebut saja Christian Gonzales yang mendapatkan gelar top-scorer selama dua musim berturut-turut. Atau Zah Rahan, pemain muda asal Liberia yang berhasil membawa Sriwijaya FC meraih gelar ganda tahun kemarin. Mungkin tidak lepas juga dari ingatan kita bintang-bintang asing masa lalu seperti Jackson F. Tiago yang telah merambah dunia kepelatihan, Luciano Leandro yang berkelana di Persija dan PSM, dan juga playmaker stylish Carlos De Mello yang beraksi layaknya Paul Gascoigne-nya Liga Indonesia. Dan tentu masih banyak lagi nama-nama lainnya.

Berita paling hot saat ini adalah usaha Pelita Jaya untuk mendatangkan salah satu bintang sisa dunia. Targetnya adalah Rivaldo, Mario Jardel, atau Marcelo Salas. Sangat menarik bukan? Tentunya kehadiran para pemain asing memiliki dua sisi, keuntungan dan keburukan, yang menghadirkan pro dan kontra di masyarakat sepakbola. Di satu sisi level kompetisi akan meningkat dan idealnya dapat memacu motivasi para pemain lokal untuk berlatih lebih keras agar mampu tetap bersaing. Sedangkan sisi buruk yang mungkin muncul adalah ketergantungan dari para pengelola klub dan para fans pada pemain asing yang pada akhirnya menyingkirkan keberadaan para pemain asal negeri sendiri. Sebenarnya kerugian semacaam itu dapat diminimalisir dengan peran seluruh insan sepakbola itu sendiri, mulai dari para pemain lokal, pengelola klub, supporter klub, serta organisasi yang matang dari BLI (Badan Liga Indonesia) selaku pengelola kompetisi dan PSSI sebagai badan resmi sepakbola kita.

Baru saja saya membaca ulasan rubrik salah satu tabloid olahraga mengenai salah satu aturan baru bagi pemain asing di Liga Indonesia. Aturan yang disorot singkatnya menyatakan bahwa pemain asing yang akan bermain di Liga Indonesia harus minimal memiliki frekuensi bermain di klub sebelumnya sebanyak 75%, andaikan klub sebelumnya tidak berada di kompetisi level tertinggi. Yang dimaksud kompetisi level tertinggi di sini adalah level yang telah ditetapkan aturan BLI seperti beberapa kompetisi strata pertama dan kedua di beberapa negara Eropa atau Amerika Latin (sumber: http://bolanews.com/edisi-cetak/nasional6.htm).

Menurut kacamata saya, aturan ini cukup unik. Karena menurut saya aturan ini tidak terlalu penting, bahkan bisa dibilang tidak relevan dengan kebutuhan kita saat ini. Mungkin ada baiknya BLI menjelaskan logika alasan diberlakukannya aturan ini. Menurut sudut pandang saya, masih banyak hal yang dapat digodok dari keberadaan pemain asing di kompetisi lokal yang nilai urgensinya lebih tinggi. Misalnya apakah aturan dari Peraturan Pertandingan LI 2007 Pasal 17 yang mengatakan bahwa maksimal jumlah pemain asing yang turun dalam satu pertandingan adalah lima (sumber: http://www.bli-online.com/index.asp?P=205) sudah cukup dapat dipertanggungjawabkan. Atau apakah ada sistem seleksi khusus untuk para pemain asing sebagai syarat berkiprah di Liga Indonesia, dengan harapan menjaga wibawa kompetisi itu sendiri. Tampaknya pembahasan mengenai hal ini tidak memiliki titik temu, atau mungkin sudah ada namun tidak terpublikasi. Saya tidak menentang keberadaan pemain asing, sebaliknya malahan mendukung. Tapi alangkah baiknya bila dilakukan pengelolaan yang matang dari sistem kompetisi lokal, terutama untuk perihal pemain asing ini.

Kembali lagi saya menyadari kodrat saya sebagai rakyat jelata di dunia sepakbola, yang hanya bisa memandang dari satu segi. Tentunya BLI dan PSSI punya pandangan yang lebih global. Namun saya harapkan pandangan awam saya mampu menjadi kritik membangun bagi persepakbolaan nasional.

Bravo Sepakbola Indonesia.

3 thoughts on “Pemain Asing di Liga Indonesia

  1. Aku masih bingung dengan format liga super, mestinya PSSI terlebih dahulu benahi organisasinya,masak pemimpinnya masih di penjara,awas kena sanksi FIFA, malu dong punya ketua umum di penjara,mungkin karena kebanyakan uang PSSI ga brani ganti nurdin halid ya

  2. pengen banget sebenarnya liat timnas berjaya di segala kejuaraan, kompetisi liga super kok kayaknya asal jalan aja, sekarang tim peserta bingung cari dana gara-gara anggaran APBN ga bole dipakai biayai sepak bola, pemain kita sekarang harganya mahal mahal, mending PSSI bikin proyek aja lagi kayak PRIMAVERA dulu, tapi mulai umur 10 tahun, biarin jangan di pulangkan dulu sebelum jadi pemain handal, kirim 22 orang aja, jadi pemain hebat 10 orang aja udah cukup. Bang nugraha besoes ga capek ya ngantor di PSSI, gantian dong, kasi yang muda muda

  3. pecat nurdin halid.
    naturalisasi irfan bachdim dan sergio van dijk
    PSSI cm bisanya makan uang rakyat aja, cm bisa mimpi, ladang korupsi,
    ketua umumnya saja sudah jadi penjahat maling rampok ..koq masi dipercayain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s