Laporan Pandangan Mata IND vs KSA

Akhirnya untuk pertama kalinya aku menonton langsung sebuah pertandingan besar internasional langsung dari stadion di hari Sabtu kemarin. Malam itu digelar pertandingan kedua tim nasional Indonesia pada fase grup perhelatan akbar sepakbola se-Asia, Piala Asia 2007. Lawan yang akan dihadapi tim merah-putih merupakan salah satu kekuatan asia, terbukti dengan sejarah prestasinya dan langganan wakil asia di putaran final piala dunia, tim singa-gurun Arab Saudi. Doktrin bahwa menonton pertandingan sepakbola lebih nikmat melalui televisi, dengan gambar kamera dari sudut terbaik dan fasilitas replay-nya, sebenarnya telah melekat di otakku. Namun atas nama kebersamaan aku mengiyakan ajakan menonton langsung pertandingan menentukan bagi Indonesia tersebut bersama beberapa teman.

Sekitar pukul empat, sekitar tiga setengah jam sebelum kick-off, kami telah sampai di kawasan Senayan, yang juga telah dipadati oleh lautan manusia berkostum merah atau putih. Setelah mobil yang kami naiki diparkir di salah satu kantor dekat stadion, kami melakukan perjalanan mengitari lingkar luar stadion Gelora Bung Karno untuk menuju titik temu yang telah disepakati bersama beberapa teman lain sebelumnya. Sepanjang perjalanan kami mencoba mencari atribut tim Indonesia untuk dipakai saat menonton. Memakan waktu lebih dari setengah jam akhirnya kami tiba di Hall Basket Senayan. Namun peralatan perang kami belum lengkap tanpa kaos tim Indonesia yang masih belum kami dapatkan. Akhirnya sembari menunggu beberapa teman lain, terutama teman kami yang bergelar VIP – Very Important Person – saat itu, sang pembawa tiket, beberapa mencari ganjalan perut dan yang lain memburu penjual kaos merah-putih dengan syarat kualitas terbaik harga terjangkau.

Hampir satu jam berlalu. Jalan protokol makin padat, namun bukan oleh kendaraan, oleh orang-orang yang berkonvoi sambil mendendangkan yel-yel untuk timnas Indonesia. Beberapa bis metro mini, bis khas Jakarta yang berwarna biru-oranye, datang membawa rombongan supporter yang tampaknya merupakan kelompok The Jak. The Jak adalah kumpulan supporter Persija. Warna langit mulai meredup yang menandakan bahwa waktu semakin dekat menuju pertandingan. Karena tiket sudah di tangan dan seragam kami sudah lengkap, maka kami memutuskan untuk bergegas menuju stadion.

Setelah gelap kami sampai di pintu stadion bersama para penonton lainnya. Dari kejauhan tampak orang-orang yang sudah berkeliaran di tangga dalam stadion yang diterangi lampu. Namun bayangan suasana indah yang tergambar di benakku langsung sirna ketika sampai di pintu masuk. Pintu masuk tanpa penerangan, selain senter dari pihak keamanan yang diarahkan ke setiap orang yang akan masuk, menjadi mulut stadion yang seakan menghisap ribuan orang ke dalamnya. Sambil mengangkat tiket masuk di tangan dan sedikit berdesakan akhirnya aku sampai di dalam stadion. Setelah puluhan anak tangga diinjak, akhirnya tiba juga di sektor yang tertera di tiket masuk. Malangnya nomor bangku dan sektor yang tertera ternyata bukan lagi sebuah ketentuan, karena seluruh tempat duduk telah diduduki secara acak. Beruntung kami berhasil menemukan sektor yang masih menyisakan beberapa tempat duduk tepat ketika pemanasan para pemain akan selesai.

Beberapa tendangan ke arah gawang dan aksi passing antar pemain disuguhi Bambang Pamungkas dkk. dalam pemanasan mereka. Selang beberapa menit setelah pemanasan selesai, kedua tim memasuki arena pertarungan. Setelah lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan serta undian penempatan gawang dan bola dilakukan, wasit tidak menunggu lama lagi untuk meniup peluitnya. Indonesia menggebrak di menit-menit awal ketika tendangan bebas Budi Sudarsono dimentahkan kiper Arab Saudi ke kiri gawang di mana Elie Aiboy siap menyambar. Namun sontekannya malah jauh ke atas. Peluang pertama bagi timnas Indonesia. Arab Saudi tidak mau kalah. Beberapa serangan mereka membuat jantung 80.000 pendukung Indonesia yang hadir di sana berdegup kencang. Dari fisik dan skill individu memang tidak bisa dipungkiri para pemain kita masih berada di bawah mereka. Dan tidak menunggu lama sundulan penyerang Arab Saudi, Yasser Al Qahtani, menyambut umpan lambung dari kiri pertahanan Indonesia merobek jala gawang Indonesia yang dijaga Yandri Pitoy di menit ke-15. Sorakan para pendukung mendadak terhenti. Tidak ada yang menyangka akan kecolongan secepat itu. Namun jiwa nasionalisme yang telah membara tetap memberi kekuatan untuk menyemangati para pemain yang berjuang di lapangan. Tidak sia-sia, lima menit kemudian Elie membayar dosanya dengan mencetak gol setelah memperdaya kiper Arab Saudi dengan gocekannya. Skor imbang 1-1 dan Gelora Bung Karno semakin bergoyang dengan body wave yang diciptakan seluruh penonton dengan kompak.

Tim Indonesia dengan 12 pemain, tambahan satu dari gilanya dukungan supporter malam itu, ternyata mampu mengimbangi permainan tim Arab Saudi. Satu hal yang disayangi adalah kepemimpinan wasit malam itu yang kurang berkenan di hati para pendukung Indonesia. Entah mungkin karena subjektivitas belaka, beberapa keputusan wasit yang enteng memberi kartu kuning untuk pelanggaran yang menurut pandanganku fifty-fifty dan tidak berat membuat teriakan penonton sesekali menjadi tidak enak didengar. Hingga babak satu berakhir kedudukan tetap imbang 1-1.

Babak kedua dimulai dan pertandingan tetap berjalan alot dengan penyerangan silih berganti dari kedua tim. Di 45 menit kedua ini beberapa pemain Indonesia tampak mulai kelelahan. Sehingga Arab Saudi mendapatkan beberapa peluang bersih yang sebenarnya pantas untuk menghasilkan gol karena sudah berhadapan satu-satu dengan kiper. Satu melenceng ke samping gawang, satu berhasil ditahan oleh Pitoy, dan satu lagi diselamatkan oleh sliding tackle Maman Abdurrahman. Indonesia bukan tanpa peluang. Beberapa serangan berbahaya dilancarkan tim merah-putih lewat umpan-umpan manis Firman Utina dari tengah. Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas masih gagal memaksimalkan kesempatan yang ada. Tak terasa semangat permainan merah-putih telah memacu produksi asam laktat yang berlebih pada kaki beberapa pemain, mengakibatkan beberapa pemain kram di penghujung pertandingan. Beberapa pergantian dilakukan oleh Ivan Kolev, arsitek tim Indonesia. Supardi, Atep, dan Ismed berurutan masuk sebagai pengganti. Di penghujung pertandingan ketika akan memasuki saat injury time Arab Saudi mendapatkan tendangan bebas di luar kotak penalti. Perasaan buruk mengusikku yang mengatakan bahwa tendangan bebas ini berbahaya. Namun untungnya pikiranku salah dan tendangan bebas tersebut jauh ke atas. Ternyata tendangan bebas berikutnyalah yang membawa malapetaka. Ketika waktu memasuki menit ke-3 dari total 4 menit injury time, Arab Saudi mendapatkan tendangan bebas dari sebelah kiri pertahanan Indonesia. Tendangan bebas diarahkan ke tengah kerumunan pemain di depan gawang dan alhasil tandukan pemain pengganti Said Al Harthi membobol gawang Indonesia. Kedudukan 1-2 membuat para pendukung bukannya terdiam melainkan semakin menyemangati para pemain timnas. Tapi waktu yang tersisa tidak cukup dan Indonesia harus menerima kekalahan yang menyakitkan. Para pemain tetap bisa menegakkan kepala setelah permainan yang mereka suguhkan dan semangat yang mereka tunjukkan. Para penonton pun tetap memberikan standing applause bagi kerja keras mereka. Setelah menunggu beberapa lama hingga keadaan stadion tidak terlalu padat lagi, kami melangkah keluar dari stadion sambil berharap Indonesia akan meraih hasil yang lebih baik di pertandingan terakhir melawan Korea Selatan.

Berita kemarin malam begitu menggembirakan ketika ternyata Korea Selatan, yang notabene tim kuat, dikalahkan oleh Bahrain yang dikalahkan Indonesia di pertandingan pertama. Dengan begitu hasil seri dengan peringkat empat Piala Dunia 2002 itu dapat meloloskan Indonesia ke perempat final dengan catatan Arab Saudi mengalahkan Bahrain sesuai logika semu di atas kertas.

Hidup Merah-Putih!

3 thoughts on “Laporan Pandangan Mata IND vs KSA

  1. Salut buat Indonesia.
    Walaupun kalah, tapi buat gw, timnas indonesia kemaren mantap banget.

    Jadi pengen nonton langsung juga niy, pengen ngerasain aura harunya denger lagu Indonesia Raya … sayang banget gw lagi pulang kampung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s