Malam tanpa bintang

Saat makan malam aku kebagian tempat di luar. Bosan menunggu makanan yang masih dibuat tanpa sadar aku menengadah ke atas. Langit gelap berawan. Hanya ada satu bintang yang menyala redup. Ada satu lagi yang kadang terlihat kadang tidak. Langit terlalu berawan malam ini, sehingga bintang memilih untuk beristirahat. Yang bercokol di langit malahan puncak apartemen yang ‘nyempil’ di pojokan jalan. Bulan masih dalam fase seperempat terakhir, dan tiga hari lagi akan ‘terlahir’ kembali (Phases of the Moon: 2001 to 2100, NASA Eclipse Home Page).

Pagi ini terasa dingin. Lebih dingin dari hari-hari sebelumnya, yang memang juga lebih dingin dari Bandung biasanya, yang tidak sedingin dahulu. Beberapa hari terakhir entah kenapa, entah hanya diriku yang merasa, atau memang ada perubahan suhu, pagi terasa lebih dingin, dan siang terasa lebih panas. Apa ini terkait dengan yang orang-orang sebut ‘Global Warming’ atau tidak, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas aku percaya kalau selalu ada keseimbangan dalam setiap hal. Ada dingin dan panas, ada bahagia dan sedih, ada menang dan kalah, ada gelap dan terang, ada pria dan wanita, ada kiri dan kanan, dan banyak lagi hitam dan putih layaknya istilah Yin-Yang yang pertama kali kudengar dari cerita kungfu. Mungkin juga kesejukan pagi tadi – kalau tidak mau menyebutnya dingin – hanya merupakan salah satu dari fenomena aksi-reaksi yang terjadi dalam benakku. Malam tadi rumahku seperti terbakar oleh hangatnya teriakan sekitar belasan orang, temanku dan tentunya aku sendiri, ketika menyaksikan laga Indonesia versus Bahrain. Namun kehangatan itu sudah sirna ditelan udara pagi yang dingin. Kemenangan Indonesia telah membuat kami bersorak-sorai bak sedang menonton di stadion. Sudah lama aku tidak merasakan semangat nasionalisme berkobar di dadaku. Terakhir kali kuingat adalah ketika perhelatan lain, Piala Tiger, berlangsung sekitar dua tahun lalu di mana Indonesia melaju hingga partai final. Sudah lama juga rumahku tidak dipenuhi teman-teman seperti semalam setelah hampir dua minggu semua teman kontrakanku pulang. Tepat dua minggu aku tinggal sendiri kalau saja hari Senin salah satu dari mereka tidak pulang. Dua kata pulang yang baru saja kugunakan memang ambigu, yang satu berarti pulang dari Bandung sedang yang lain pulang ke Bandung. Tradisiku sejak tahun pertama, jarang pulang ketika liburan kecuali lebaran, ternyata berhasil kupertahankan. Terakhir kuingat pulang ke Jakarta adalah ketika deretan tanggal merah menjelang minggu ujian. Perasaan ingin pulangku selalu terhempas oleh berbagai alasan yang menstimulan keenggananku untuk meninggalkan kota Bandung. Terlepas dari itu, ternyata produktivitasku meningkat selama ditinggal sendiri di rumah. Baik dalam studi (atau memang karena sudah dikejar batas waktu?), menambah wawasan (atau memang hanya baru ada waktu?), bahkan juga menghibur diri (atau memang karena sudah waktunya?).

Hari ini berlangsung cukup aneh. Entah kenapa kelabilan melanda diriku. Mulai dari rencana lari pagi yang berubah jadi lari sore, urung ke kampus gara-gara tiba-tiba melihat berita di koran bahwa semifinal Copa America sedang berlangsung dan serta-merta menyalakan layar televisi untuk menontonnya, merubah rencana sarapan bubur kacang hijau dan telur setengah matang di Cisitu menjadi makan siang di belakang kampus karena bertemu teman lama di jalan, hingga makan sore tiba-tiba di salah satu restoran di Dago.

Sudah tiga pertandingan sepakbola hari ini kulihat, Brasil-Uruguay dan Uzbekistan-Iran di penghujung pertandingan dan Arab-Korsel yang sedang berlangsung. Dan aku sudah merindukan menonton pertandingan Indonesia lagi. Hampa di malam yang dingin. Semoga aku masih diberkahi esok hari. Kemarin aku bermimpi mengenai banyak sekali yang harus kukerjakan di dunia ini. Kemarin lusa aku semakin menyadari betapa kecilnya diriku di hadapan orang lain, dunia dan tentu saja sang pencipta. Dan kemarinnya lagi aku sudah tidak ingat. Mungkin memoriku cuma bisa di-replay dua hari. Ingin sesekali menatap lautan bintang beralas gelap malam, tertidur lagi, dan kemudian bangun waktu menara mesjid berteriak adzan. Semoga besok, besoknya, besoknya lagi, dan seterusnya aku masih bisa berterimakasih kepada semua orang yang telah berpengaruh dalam hidupku. Aku ingin ingat akan semua orang untuk kumasukkan dalam doaku sebelum tidur, tapi tidak pernah bisa. Semoga semua orang yang kukenal bisa sukses dan bahagia dalam hidupnya masing-masing.

Hari ini mungkin bisa dinobatkan sebagai hari mati lampu. Partai Brasil-Uruguay diwarnai mati lampu stadion, begitu juga partai Arab-Korsel yang baru saja mati lampu. Malangnya, partai terakhir berlangsung di Indonesia. Apakah ini salah satu bentuk toleransi kepada bintang yang juga sedang mati? Semoga semua hal di dunia ini tetap berjalan lancar sebagaimana mestinya, dan Indonesia bisa lolos ke babak kedua Piala Asia.

Pusing juga mengadopsi plot maju mundur ala film atau cerita novel pada memori otak yang terbatas – walaupun kapasitasnya jauh lebih besar dari yang telah diciptakan teknologi saat ini – ‘hanya’ sebesar sekitar 3 terrabyte (http://www.sizes.com/people/brain.htm).

4 thoughts on “Malam tanpa bintang

  1. Dan, km kenapa? Kok makenya ‘Aku’? Lagi mellow ya? Beberapa hari yg lalu langit masih cerah kok, banyak bintang keliatan cantik di langit Tubagus. Eniwei, final Copa Brazil-Argentina ya? Cihuyy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s