Short story from Athens

Bukan Kaka atau Gerrard, simbol sepakbola modern di mana permainan lini tengah sangat berperan tak terkecuali sebagai pemecah kebuntuan paceklik gol, yang jadi pahlawan di laga pemuncak Liga Champion tahun ini. Tapi Inzaghi, seorang striker yang dilabeli pemain gaek dan acap kali menerima cacian karena dianggap cuma punya modal keberuntungan dan insting mencari posisi yang hebat untuk mencetak gol. Tapi Inzaghi membuktikan bahwa modal tersebut cukup untuk membuat lautan merah di Olympic Stadium Athena terdiam. Dua gol yang ia boyong, satu benturan kepala pada tendangan bebas Pirlo dan satu lagi pemanfaatan kelengahan garis offside Liverpool, menjadi penyelamat muka Milan dari kekalahan dua kali beruntun di final ajang yang sama oleh The Reds. Kekalahan menyakitkan dua tahun lalu yang membayangi Milan berhasil dibalas lewat pengalaman mereka. Starting line-up menunjukkan tujuh pemain Milan, lebih banyak dari Liverpool yang menurunkan lima pemain, turut bermain pada babak yang sama dua tahun lalu. Para pendukung Milan pun telah belajar bahwa sesumbar atas keunggulan bukanlah cara yang pantas untuk dilakukan. Sebaliknya dengan Liverpool yang yakin dapat mengulang sejarah dua tahun silam, dan semakin banyaknya orang yang mendukung Liverpool akibat kekalahan klub-klub Inggris lain di semifinal dan permainan mereka yang pantang menyerah hingga sampai ke final.

Awal babak pertama berjalan cukup atraktif dengan penyerangan silih berganti dari kedua tim. Tercatat di sepuluh menit pertama sudah empat tembakan dari Liverpool dan satu dari Milan yang dilancarkan. Namun kebuntuan Kaka yang dijaga Mascherano dan Carragher sebagai pelapisnya masih membuat permainan Milan belum mencapai titik terbaiknya. Menit menunjukkan hitungan ke-45, ketika Kaka dilanggar Xabi Alonso di luar kotak penalti yang menjadi awal malapetaka bagi Liverpool. Tendangan bebas Pirlo yang melewati pagar pemain Liverpool membentur kepala Inzaghi secara tak sengaja sehingga bola berubah arah dari perkiraan Reina. Kedudukan 1-0 untuk Milan dan tidak lama kemudian peluit akhir babak pun terdengar.

Kontan babak kedua berjalan menjemukan akibat permainan aman yang dimainkan Milan dan pemain Liverpool yang tampak terburu-buru berusaha mengejar. Posisi 1-0 memang berbeda dengan 3-0 pada dua tahun lalu, ketika skor 3-0 mengakibatkan permainan menjadi terbuka, Liverpool semakin all out untuk mengejar ketertinggalan, dan Milan yang merasa tetap di atas walaupun terkejar satu gol. Kondisi tersebut tercermin pada Gerrard yang punya peluang untuk menyamai kedudukan namun ketenangan tidak menyertai penyelesaiannya di hadapan Dida. Kedudukan 1-0 bertahan hingga sepuluh menit terakhir ketika pemain Milan melihat celah di tengah konsentrasi Liverpool untuk mengejar defisit gol. Pada menit ke-82 umpan datar Kaka mengecoh Agger dan Carragher yang tak berkoordinasi dengan baik sehingga Inzaghi lepas dan membuat Reina tertipu sebelum melesakkan bola ke gawang. Kuyt membuat satu gol balasan di menit 88, yang membuat sebagian besar penonton, bukan hanya pendukung Liverpool, percaya bahwa kejutan akan datang seperti biasa di final yang dilakoni Liverpool. Mungkin perlu dikilas balik beberapa final pada tujuh tahun terakhir yang memang menunjukkan kemagisan Liverpool, yaitu Final Piala UEFA 2001, Final Liga Champions 2005, dan Final Piala FA 2006. Namun kembali perkiraan khalayak bukanlah yang tertulis pada kenyataan. Sisa waktu berhasil dijaga dengan baik oleh pemain Milan lewat disiplin tinggi dan waktu yang habis oleh pergantian pemain dan beberapa cedera yang memperlambat waktu.

Peluit akhir berbunyi, skor 2-1 untuk Milan dan Milanisti bersorak gembira mengiringi pelukan para pemain Milan di tengah lapangan. Sedangkan Liverpudlian hanya berdiri sambil memberi tepuk tangan kepada para pemain Liverpool yang tertunduk lesu sambil menyanyikan You’ll Never Walk Alone.

Sekali lagi sepakbola memang tidak dapat diprediksi, dan secara logis dapat diucapkan bahwa Tuhan memang Maha Adil. Yang dicaci dijadikan pahlawan, yang pernah tersakiti diberikan kemenangan, dan yang biasa diberikan kekuatan magis diberi pelajaran. Namun mitos tetap bertahan: negara dengan tim terbanyak lolos ke perempat final gagal menjuarai Liga Champions terkecuali mereka menciptakan final senegara (namun gagal dilakukan klub Inggris), Milan kembali menang di Athena setelah tahun 1994, dan keajaiban hanya tercipta sekali di ajang serupa. Forza Milan.

8 thoughts on “Short story from Athens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s