Champions League Final Four : Myth Theory

Dalam pertandingan sepakbola, semua tim memiliki peluang untuk menang meski sekecil apapun. Yang menarik perhatian tentu saja adalah pertandingan antara klub besar dunia, yang di antaranya sering terjadi di Champions League. Hasil akhir akan sangat sulit diprediksi, apalagi ketika semakin mendekati partai puncak. Namun selalu ada pola yang terbentuk dari sejarah hasil pertandingan. Pola tersebut seringkali terulang menjadi sebuah mitos. Walau sebuah mitos kerap kali terulang, sepakbola tetap bukanlah matematika. Di dunia matematika, setiap saat dilakukan perhitungan 1 + 1, maka yang dihasilkan adalah 2. Namun dalam sepakbola, mitos yang selalu terjadi mungkin saja suatu saat terpecahkan.

Babak semifinal Champions League akan dilangsukan malam ini. Tiga dari empat tim yang mencapai Final four berasal dari Inggris, peringkat 1-3 FA Premiere League saat ini, MU-Chelsea-Liverpool, dan satu lagi dari Italia, AC Milan. Tim asal Britania Raya selangkah lagi dapat mewujudkan All England Final. Satu tempat sudah dipastikan muncul dari partai Chelsea versus Liverpool. Kepastian satu wakil lagi dibebankan kepada MU yang harus menghadapi Milan.

Menarik bila kita simak sejarah Champions League dari partai perempat final dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sejak musim 1997-1998, ketika negara unggulan mulai mendapatkan jatah keikutsertaan lebih banyak dari negara lain yang peringkatnya lebih rendah, tim dari negara unggulan mendominasi jumlah klub yang lolos ke perempat final. Tercatat dalam sepuluh tahun terakhir hanya tim dari sepuluh negara eropa yang berhasil menginjakkan kaki di level perempat final. Namun presentase terbesar pencapaian perempat final dalam sepuluh tahun terakhir tentu saja ada pada “The Big four in Europe”, Jerman (70%) – Italia (80%) – Spanyol (90%) – Inggris (100%). Kesamaan yang menarik tiap tahunnya adalah, entah mengapa negara yang mengirimkan tim paling banyak ke perempat final malahan gagal mendapatkan gelar juara. Padahal secara logika peluang, tentu saja semakin banyak wakil, kans memenangi kejuaraan semakin besar. Tengok musim 97-98 ketika Jerman mengirimkan 3 wakilnya ke perempat final. Di musim itu wakil Spanyol akhirnya keluar sebagai juara. Atau yang paling baru, musim terkhir ketika Barcelona juara, di perempat final ada tiga tim Italia yang mendominasi dibandingkan tim negara lain yang maksimal hanya menempatkan dua wakil.

Tradisi tersebut bukannya tanpa cela. Pada musim 99-00 wakil Spanyol berhasil memecahkan mitos tersebut dengan menciptakan All Spain Final, Real Madrid versus Valencia. Musim 02-03 wakil Italia mengikuti jejak tim Spanyol setelah mendominasi perempat final dan mewujudkan All Italian Final lewat Juventus dan Milan. Real Madrid, yang notabene memang tim paling digdaya di turnamen ini, dengan kumpulan bintangnya akhirnya memberi cacat kecil dengan menjuarai turnamen musim 01-02 setelah dominasi tim Spanyol di perempat final. Sebuah pola yang menarik terbentuk. Negara yang timnya mendominasi jumlah peserta perempat final hanya memiliki peluang kecil untuk dapat merasakan gelar juara Liga Champion terkecuali mereka dapat menciptakan final satu negara. Pada musim ini, mitos tersebut berpeluang untuk terus berlanjut. Inggris berhasil menempatkan tiga timnya di perempat final, lebih banyak dibandingkan Italia (2 tim) dan Spanyol, Belanda, Jerman (masing-masing 1 tim). Dan saat ini tiga tim tersebut masih bertahan hingga semi final, sama persis dengan musim 99-00 ketika tiga tim Spanyol menapaki semi final dan musim 02-03 lewat wakil-wakil Italia. Para wakil Inggris akan dapat meneruskan tradisi bila mereka menciptakan All England Final. Mitos pertama diciptakan oleh wakil Spanyol, kedua oleh wakil Italia, maka musim inilah saat bagi wakil Inggris memantapkan mitos tersebut. Satu kaki telah dilangkahkan tim Inggris ke Athena, tempat final Champions League akan berlangsung, sedangkan satu kaki lagi bergantung kepada kiprah MU.

Mitos lain yang saya deteksi adalah partai semifinal yang dialami Liverpool dalam tiga tahun terakhir. Tahun lalu, Liverpool jumpa Chelsea di semi final Piala FA sebelum berhasil menembus final dan menjadi juara. Sedangkan pada tahun sebelumnya kejadian yang sama terjadi di Champions League. Untuk kali ketiganya dalam tiga tahun berturut-turut Liverpool kembali jumpa Chelsea di partai semi final. Apakah tradisi tiga tahun terakhir akan terulang?

Melihat kedua mitos tadi, maka saya membuat dua buah teori. Teori pertama adalah Teori Mitos yang akan memenuhi kedua mitos tersebut, dengan menghasilkan partai final Liverpool vs MU. Sedangkan teori kedua adalah Teori Anti-Mitos yang membuat mitos tersebut tak lagi berlaku dengan membuahkan partai Chelsea vs Milan di partai puncak dengan Chelsea keluar sebagai juara. Sekali lagi saya mengingatkan bahwa sepakbola bukanlah matematika, yang mengakibatkan tradisi/mitos seringkali pecah di kali ketiga atau keempatnya. Seperti prediksi pada umumnya, yang selalu mencoba tampil bijak, saya pun tidak mengungkapkan sebuah perkiraan yang mutlak. Selain dua kemungkinan teori tadi masih ada dua kombinasi lagi yang dapat tercipta. Cukup sejenak saja kita kagumi fenomena mitos ini. Mari kita lupakan dan menikmati lima partai Champions League yang tersisa.

Salam Sepakbola.

9 thoughts on “Champions League Final Four : Myth Theory

  1. Gak pake mitos2an… Langsung ke intinya…
    Saya gak suka MU karena saya pendukung Arsenal… So MU VS Milan menang Milan..
    Saya gak suka Chelsea karena Drogba (rasis abis)… So Chelsea VS Liverpool menang Liverpool…

    Final idaman saya, Inter vs Arsenal… Eh salah, Milan vs Liverpool… Dan Milan adalah “musuh” nomer 2 Inter (setelah Juventus), so saya pilih Liverpool yang juara…🙂

  2. Salam sepakbola juga Dan😀
    Chelsea suka batu, jadi kesel gw. Terus MU sayang karena udah terlanjur ngebantai Roma 7-1 kalo ga masuk Final. Jadi gw pengen MU-Liverpool. Hehe..
    Mitos-mitos itu sendiri kalo gw liat sih kayak semua kebetulan-kebetulan yang terjadi di sepakbola, terus dihubung-hubungin, terus dimasukin ati.. Jadi kebawa-bawa deh di lapangan. Bener ga? :p
    Tapi emang mitos-mitos itu sih yang bikin sepakbola menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s